Ikuti Kami Di Facebook

PEREWANGAN.

PEREWANGAN
salah satu teknik untuk berkomunikasi dengan jin
yang paling mudah untuk mengetahui keinginan
jin. Yaitu memasukkan jin ke dalam tubuh
seseorang. Di Jawa, kita mengenalnya dengan
ilmu perewangan. Perewangan berasal dari kata
Jawa "rewang" yang artinya menolong. Maka,
"rewang" mengacu pada seseorang yang
bersedia jasadnya untuk dijadikan medium
makhluk jin. Ilmu perewangan sangat umum
dipakai untuk berkomunikasi dengan jin seperti
bila kita berbicara dengan sesama manusia. Jin
jelas membutuhkan sarana bantu untuk
memasuki dunia fisik. Sebab dia adalah makhluk
yang sebenarnya makhluk metafisik. Bahasa yang
mereka pergunakan juga sebenarnya sangat
berbeda dengan bahasa yang kita pergunakan
sehari-hari. Bahasa jin memiliki susunan kata-kata
dan struktur kalimat yang berbeda dengan yang
kita pakai dalam pergaulan antar manusia.
Dengan kata lain apabila kita berkomunikasi
dengan wujud asli mereka, maka yang kita
pergunakan sebenarnya adalah bahasa "rasa",
dan yang mereka mengerti adalah "kehendak",
"niat," "kemauan" kita saja. Mereka memahami
kita bukan karena susunan kata-kata yang kita
pergunakan. Sama seperti kita berbicara dengan
seseorang yang tidak bisa mendengar atau tuna
rungu dan tuna wicara, yang kita pahami dari
mereka agar mereka dan kita bisa nyambung
adalah bahasa rasa dan "keinginan" saja. Di
manapun manusia yang hidup di suatu wilayah
tertentu dan memiliki bahasa tertentu pula, maka
jin yang hidup di sana juga mengenali bahasa
manusia. Begitu pula dengan seorang
paranormal/dukun akan mengerti bahasa jin dari
" kemauan" jin yang dimengerti sang dukun.
Nah, untuk berkomunikasi dengan jin maka tidak
ada cara lain selain kita perlu mendalami bahasa
" rasa" atau bahasa "batin" Apa itu batin/rasa?
Terus terang untuk menjawab ini saya tidak
mengacu pada khasanah ngelmu Jawa. Saya
akan mengacu pada apa yang saya alami saja
dan saya akan menjelaskan melalui hal- hal yang
sederhana. Pertama, ketika Anda ingin
mendeteksi benda padat inera apa yang Anda
gunakan? Kedua, ketika Anda ingin mendeteksi
benda cair apa indera apa yang Anda gunakan?
Ketiga, ketika Anda ingin mendeteksi gas, indera
apa yang Anda gunakan? Jelas bahwa kita
mempergunakan indera yang berbeda untuk
merasakan kehadiran mereka. Zat padat
menggunakan mata untuk mengawali
pendeteksian kemudian diteruskan ke otak. Zat
cair menggunakan indera peraba: kulit atau lidah
kemudian diteruskan ke otak. Zat gas
menggunakan indera hidung kemudian
diteruskan ke otak. Benda ada yang terlihat dan
terasa oleh kulit (benda padat/cair), namun ada
pula yang tidak terlihat, juga tidak terasa oleh kulit
namun kita yakin ada, sebab hidung bisa
mengenali zat tersebut. Nah, semakin abstrak
tingkat zat, maka kita menggunakan indera yang
berbeda pula. Bagaimana bila benda tersebut
sama sekali tidak bisa diindera oleh mata, kulit,
hidung, lidah, telinga? Jin adalah jenis mahluk
Tuhan yang ghaib. Ghaib bisa diartikan sebagai
sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh indera
fisik. Namun manusia juga dibekali oleh Tuhan
indera untuk mendeteksi yang gaib ini. Indera itu
disebut dengan batin/rasa yang sama sekali
bukan bersifat fisik. Batin/rasa inilah yang menjadi
modal manusia untuk mengenali dimensi
metafisik atau kegaiban. Kegaiban itu bertingkat-
tingkat, mulai gaibnya jin, gaibnya malaikat,
gaibnya takdir, dan seterusnya …hingga gaibnya
Tuhan Yang Serba Gaib. Dzat yang gaib bisa
dirasakan keberadaannya dan bisa pula kita
berkomunikasi dengan mereka. Asalkan kita rajin
untuk olah rasa/ olah batin maka manusia yang
merupakan makhluk yang lengkap ini (berdimensi
fisik dan metafisik: punya jasad namun juga
punya yang gaib) pasti akan mampu
berkomunikasi … inilah kehebatan manusia.
Sekarang ini, yang ditonjolkan dalam hidup
sehari-hari hanya olah raga. Sepertinya manusia
hanyalah memiliki raga saja. Bagaimana dengan
rasa? Hampir tidak pernah disentuh dalam
wacana-wacana publik sebagai hal yang perlu
untuk didiskusikan, dilatih, dipertajam. Padahal,
sebelum ada jasad bukankah manusia adalah
ruh? Ruh lah yang akan abadi melintasi waktu
hingga akhir jaman. Sementara umur jasad?? Ya
usia 50-an tahun saja sudah sakit-sakitan dan bau
tanah … Kita juga terbiasa menggunakan
ungkapan yang lebih mengedepankan aspek fisik
daripada batin. Misalnya saat kita mengucapkan
SELAMAT HARI RAYA, MOHON MAAF LAHIR
BATIN … Lho mengapa kok yang batin diletakkan
setelah yang lahir?? Harusnya, kita berani
mengatakan MOHON MAAF BATIN LAHIR … Inilah
ironi jaman sekarang. Yang lebih cenderung
untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang
materialisme. Paham yang lebih cenderung untuk
menomorsatukan materi sebagai satu-satunya
kenyataan terdalam (ultimate reality). Jadinya apa?
Ya akhirnya manusia tidak lebih melihat dirinya
hanya sebagai "bangkai" yang tanpa "ruh"…
Kembali ke tema awal, yaitu tentang jin tadi.
Bahwa karena jin adalah dzat yang gaib maka
mereka hanya bisa dideteksi bila kita
menggunakan indera rasa/batin saja. Kita
sebenarnya sudah terbiasa untuk menggunakan
indera rasa/hati/batin ini dalam hidup sehari-hari.
Marilah kita lebih fokus lagi untuk membahas
yang batin ini sekaligus juga untuk mempertajam
ngelmu kebatinan kita: 1. Apa yang Anda rasakan
saat melihat ada teman yang sedih? Ikut sedih.. 2.
Apa yang Anda rasakan saat melihat ada teman
yang bahagia? Ikut senang.. 3. Apa yang Anda
rasakan saat melihat ada bunga mekar? Takjub..
4. Apa yang Anda rasakan saat melihat matahari
terbit? Tergetar … Ini respon hati setelah "melihat"
hal-hal yang tampak oleh mata. Bagaimana
respon hati bila " melihat" atau "merasakan" hal-
hal yang tidak tampak atau belum pernah tampak
oleh mata namun kita yakin ada? Dari sini, kita
hanya bisa mengatakan: tidak mungkin …. Sebab
pengetahuan kita, pandangan hidup kita dan
" dunia kita" sesungguhnya dibangun oleh indera
mata, telinga, hidung, peraba kulit lidah dan
seterusnya … Itu sebabnya, untuk mengenali
dunia ghaib, kita tidak menggunakan semua
indera-indera tadi. Kita hanya menggunakan satu
indera saja untuk mengenali Jin yaitu: rasa/batin
yang akhirnya menimbulkan keyakinan yang
haqqul yakin. Rasa/batin adalah jalur lain indera
manusia yang lalu lintasnya tidak melalui indera
fisik namun sudah diinstal Tuhan di dalam otak
kita. Untuk mengenali rasa/batin yang merupakan
software yang sudah diinstal di otak ini, maka
banyak sarana membukanya. Misalnya, para ahli
yoga menggunakan sarana meditasi yaitu diam/
meneng. Menutup indera mata dan membuka
indera mata hati/batin/rasa dalam jangka yang
lama. Seberapa lama Anda menutup mata
namun tidak tidur? Kebanyakan dari kita hanya
menutup mata kalau tidur … bagaimana dengan
menutup mata namun hati dan otak masih
terjaga? Atau kalau ngantuk baru menurup mata.
Cobalah sekarang mulai berlatih untuk menutup
mata namun posisi tubuh tetap duduk, atau
berjalan. Bila kesulitan, Anda bisa menggunakan
sarana kain hitam untuk menutupi mata Anda.
Kemudian duduklah di kursi dengan santai selama
mungkin. Bila Anda sudah terbiasa melakukan hal
ini, berlatihlah untuk menutupi mata dengan kain
hitam namun posisinya sekarang tidak lagi duduk
di kursi, melainkan di tempat-tempat yang sepi.
Saya bahkan terbiasa duduk diam dengan mata
tertutup di atas almari di kamar yang sepi …
bahkan duduk diam di dalam lemari kosong yang
sudah tidak dipergunakan lagi berjam-jam …
Terkadang, berjalan di ruang kosong atau tempat
tempat sepi.. Ini tentu saja upaya untuk
mengendurkan peran jasad fisik/ raga dan
menguatkan peran rasa agar semakin tajam …
dan mendeteksi gerakan-gerakan batin lain yang
ada di sekitar kita.. termasuk gerakan jin.. Setelah
Anda terbiasa berlatih hal ini yang harus kita
lakukan adalah menata niat. Niat haruslah yang
baik dan pasrah total, sumarah dan sumeleh pada
Tuhan. Sekian lama berlatih, rasa batin akan
secara otomatis bergetar …. bila dilatih terus…
akan semakin bergerak… batin akan semakin
tajam mendeteksi gerakan yang ghaib…. jin pun
akan terasa berada di sekeliling kita, di depan kita,
di belakang kita, di kanan kita … di kiri kita… dan
akhirnya batin kita akan sangat awas dan bisa
melihat sebagaimana kita melihat dengan mata …
Bila kita melihat jin dan dia juga melihat kita maka
yang perlu dilakukan sebagai berikut: Pertama,
ucapkan salam apa saja dalam hati Kedua,
sampaikan maksud Anda dalam hati Ketiga,
ucapkan selamat berpisah dalam hati Untuk
menguji keberadaan jin sekaligus untuk
membuktikan apakah indera batin kita tidak
menipu, maka yang perlu dilakukan adalah
mengajak seseorang yang siap menjadi medium/
perantara/perewangan. Ajaklah jin yang untuk
masuk ke dalam tubuh si perewangan/medium
… kemudian suruh orang lain yang sudah
menguasai ilmu kebatinan untuk
mewawancarainya … Untuk awal, jangan terlalu
lama menggunakan tubuh sang perewang.
Sebab tubuh si perewang yang sudah dimasuki
jin ini akan mudah capek. Sebab dia dipaksa
untuk mengalahkan otaknya yang normal untuk
menuruti kehendak otak lain (otak jin) yang
abnormal.. Bila Anda sudah bisa membuktikan
dengan eksak keberadaan jin dan mampu
berkomunikasi dengannya, maka yang perlu
digarisbawahi adalah menggunakan kemampuan
tersebut untuk disesuaikan dengan kehendak
Tuhan …yakni untuk tujuan ngelmu kebaikan
yang luhur dan mulia. Jangan
mencampuradukkan antara urusan jin dengan
urusan manusia. Tidak pada tempatnya manusia
meminta bantuan jin untuk mendapatkan
kekayaan, kekuasaan, kesaktian dan urusan
keduniaan lain. Manusia harus bisa berdiri tegak
untuk menuntaskan problem-problemnya
sendiri, dan sebagai makhluk Tuhan dia harus
pasrah total hanya pada Tuhan saja. Manusia
tidak boleh takluk apalagi dikuasai oleh makhluk-
makhluk-Nya. Matur nuwun dan salam apa saja

PEREWANGAN. Rating: 4.5 Diposkan Oleh: fajar

Asal Tahu

Laku ngeleng/ngguwo.berarti masuk berarti masuk bertapa ke dalam gua,tidak makan dan minum.berguna untuk mendapatkan fikiran dari hiruk piruk duniawi hingga hening hati kepada tuhan.biasanya laku ini di lakukan kepada orang yang prihatin dengan keadaan dunia dan memohon petunjuk tuhan untuk kentrentraman dunia.(seperti tindakan Nabi Muhammad di Gua Hira).

Asal Tahu

RUMPUT ALANG-ALANG dapat di gunakan untuk mengantung jodoh seorang wanita/pria.caranya.alang-alang yang sudah di beri mantra di buat simpul,bisa simpul 3/7 sesuai keinginan si pengirim.lalu alang alang di tanam di dekat rumah orang yang di tuju.niscaya tidak akan laku kawin seumur hidup meski Wajahnya cantik/tampan.

Asal Tahu

Laku ngalong menirukan kehidupan kalong(kelelawar besar pemakan buah yang hidup tergantung di dahan pohon dengan kaki di atas dan kepala di bawah).biasanya di lakukan oleh orang yang berniat melawan hukum alam yang sudah lazim.contohnya adalah untuk ilmu meringankan tubuh dan terbang melayang.

Baca Juga